Thursday, December 13, 2012

Pendidikan Islam Masa Kejayaan




BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk berbudaya. Sebagai bagian dari alam semesta, manusia dengan segala potensinya dituntut untuk mampu mengelola alam semesta menjadi alam budaya sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan hidup manusia. Tuntutan ini pada akhirnya menjadikan manusia mampu melahirkan kebudayaan yang besar. Untuk mencapai kebudayaan yang maju, suatu bangsa menerima warisan budaya dari generasi lama; membuang kebudayaan lama dan menggantikannya dengan yang baru; atau dengan mentransfer kebudayaan bangsa lain.
Untuk melaksanakan fungsi tersebut, pendidikan adalah lembaga yang paling efektif. Pendidikan mempunyai peranan dalam merubah dan memindahkan nilai-nilai kebudayaan pada setiap individu dalam masyarakat dan mengolah kebudayaan tersebut menjadi sikap mental, tingkah laku, bahkan menjadi kepribadian.
Mengkaji sejarah pendidikan Islam pada masa kejayaan merupakan salah satu bentuk hal yang bisa membuat kita termotivasi dalam memajukan pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Kita dapat mengetahui tentang kejayaan umat Islam dalam pendidikan sebagai cerminan bahwa umat Islam juga pernah mengalami kejayaan dalam bidang pendidikan.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan disajikan tentang kontak umat Islam dengan filsafat Yunani sebagai awal perkembangan pendidikan Islam, faktor penyebab kejayaan pendidikan Islam, perkembangan lembaga pendidikan Islam, sistem pendidikan Islam pada masa kejayaan, serta tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam kejayaan pendidikan Islam.

2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut.
1. Bagaimana kontak umat Islam dengan filsafat Yunani?
2. Apa saja faktor yang menyebabkan kemajuan pendidikan Islam?
3. Bagaimana awal perkembangan lembaga pendidikan Islam masa kejayaan?
4. Bagaimana sistem pendidikan Islam pada masa kejayaan?
5. Siapa saja tokoh-tokoh umat Islam yang mempunyai kontribusi besar dalam kemajuan pendidikan Islam?

C. Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur dari buku-buku yang membahas tentang bahasan terkait.

D. Sitematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis ke dalam 3 bagian meliputi:
BAB I PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
2.      Rumusan Masalah
3.      Metode Pemecahan Masalah
4.      Sistematika Penulisan Makalah
BAB II PEMBAHASAN
1.      Kontak Umat Islam dengan Filsafat Yunani
2.      Faktor Penyebab Kejayaan Pendidikan Islam
3.      Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Masa Kejayaan
4.      Sistem Pendidikan Islam Masa Kejayaan
5.      Tokoh-tokoh Pendidikan Islam Masa Kejayaan
BAB III PENUTUP
A. SIMPULAN






BAB II
PEMBAHASAN
MASA KEJAYAAN PENDIDIKAN ISLAM”

A. Kontak Umat Islam dengan Filsafat Yunani

Transmisi keilmuan non-Islam yang dilakukan oleh umat Islam pada masa kejayaan sebagian besar berupa pemikiran warisan Yunani. Adapun pemikiran warisan Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab bukan hanya literatur-literatur di masa Yunani kuno, tetapi juga literatur-literatur di masa sesudahnya.

Ketertarikan umat Islam terhadap kebudayaan Yunani dilanjutkan dengan penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Ketertarikan umat Islam akan warisan Yunani semakin besar setelah terjadi kontak yang makin dekat dengan warisan Yunani. Semenjak al-Manshur naik tahta, umat Islam semakin hari semakin terbawa oleh pengaruh peradaban Yunani.

Keluarga Barmak yang berasal dari Balkh, pusat Ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani di Persia, mempunyai pengaruh dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani di Baghdad. Di samping sebagai wazir, mereka juga menjadi pendidik dari anak-anak khalifah. Kehadiran ilmuwan-ilmuwan dan dokter-dokter dari Persia mempertebal rasa ketertarikan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Untuk mentransfer karya-karya Yunani ke dalam Islam, al-Manshur lebih berminat kepada filsafat dan ilmu pengetahuan dan memberikan dukungan besar serta perlindungan bagi kegiatan penerjemahan. Pengoperan budaya warisan Yunani yang telah dirintis al-Manshur dilanjutkan oleh khalifah al-Rasyid. Ketika berkuasa, ia mendirikan sebuah rumah sakit. Pembangunan rumah sakit ini akhirnya mempengaruhi umat Islam untuk belajar ilmu kedokteran.

Ketika al-Makmun berkuasa, ia selangkah lebuh maju dari ayahnya dengan mendirikan Bait al-Hikmah, suatu lembaga dan perpustakaan rasional untuk kegiatan penelitian dan penerjemahan pada 830 M. Lembaga ini dijadikan sebagai basis pengumpulan manuskrip-manuskrip Yunani dan pusat penerjemahan buku-buku sains dari Yunani.1

Hunain bin Ishaq, seorang Kristen Nestorian dari Hirah, telah menerjemahkan karya-karya Yunani untuk Khalifah al-Makmun. Buku-buku yang diterjemahkan oleh Hunain adalah hampir semua karya Galen. Dari karya Aristoteles, Hunain menerjemahkan Categories, Phisics, Magna Moralia, dan Hermeneutics. Dari karya Plato, ia menerjemahkan Republic, Timeus, dan Laws. Dari karya Hippocrates, ia menerjemahkan Aphorisme; dari karya Diascorides ia menerjemahkan Materia Medica.

Selain Baghdad, Mesir juga merupakan pusat kajian keilmuan. Sebelum abad ke-9 M, Ibn Tulun membangun sebuah rumah sakit. Seperti halnya di Baghdad, rumah sakit ini bukan hanya berfungsi sebagai pusat pengobatan, tetapi juga sebagai lembaga pengkajian dan penelitian serta pengembangan ilmu medicine.

Dinasti Fatimiyyah juga memiliki penghargaan yang sangat tinggi terhadap pendidikan Islam. Penguasa-penguasa sangat memperhatikan pelaksanaan pendidikan dengan berusaha melengkapi fasilitas kegiatan keilmuan. Mereka berusaha keras untuk mengadakan koleksi manuskrip-manuskrip dan mendirikan perpustakaan yang diberi nama Dar al-‘Ilm. Pada 1005 M, Khalifah al-Hakim mendirikan sebuah lembaga penelitian sekaligus perguruan tinggi yang diberi nama Dar al-Hikmah. Selain itu, al-Hakim juga membangun gedung observatorium di puncak di balik Kairo.2

B. Faktor Penyebab Kejayaan Pendidikan Islam

Masa kejayaan pendidikan Islam dimulai dengan berkembang pesatnya kebudayaan Islam yang ditandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah formal serta universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam. Pendidikan tersebut sangat berpengaruh dalam membentuk pola kehidupan, budaya dan menghasilkan pembentukan dan perkembangan dalam berbagai aspek budaya kaum muslimin. Masa dulu pendidikan hanya sebagai jawaban terhadap rintangan dan pola budaya yang berkembang dari bangsa yang baru memeluk agama Islam. Tapi sekarang terus merupakan jawaban tiap tantangan kemajuan budaya Islam itu sendiri yang berjalan pesat.

Ada dua faktor yang mempengaruhi kebudayan, yaitu Faktor Intern dan Faktor Ekstern. Faktor Intern adalah faktor yang dibawa dari ajaran Islam itu sendiri sedangkan Faktor Ekstern adalah faktor yang dibawa dari luar ajaran Islam. Tetapi sebenarnya pengaruh dari luar tersebut, hanyalah berupa sekedar sebagai rangsangan atau tantangan saja, agar potensi pembawaan dari ajaran Islam itu sendiri bisa berkembang. Yang paling menentukan adalah jiwa dan semangat kaum muslimin, terutama para ahlinya dalam penghayatan dan pengamalan ajaran Islam.3

C. Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Masa Kejayaan

Sebelum timbulnya sekolah dan universitas yang kemudian dikenal sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sebenarnya telah berkembang lembaga-lembaga pendidikan islam yang bersifat nonformal.
Diantara pendidikan Islam yang bersifat nonformal tersebut adalah

1. Kuttab sebagai lembaga pendidikan dasar

Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat belajar menulis. Sebelum datangnya islam kutab telah ada di negeri arab, walaupun belum banyak dikenal, diantara penduduk mekkah yang mula-mula belajar huruf arab ialah Sufyan Ibnu Umayah Ibnu Abdu Syams dan Abu Qhais Ibnu Abdi Manaf Ibnu Zuhro Ibnu Kilat. Keduanya mempelajarinya di negeri Hira.
Sewaktu agama Islam diturunkan Allah sudah ada diantara sahabat yang pandai menulis dan membaca. Kemudian tulis baca itu mendapat tempat dan dorongan yang kuat dalam Islam, sehingga berkembang sangat luas dalam kalangan umat Islam. Ayat Al-Quran yang pertama diturunkan telah memerintahkan untuk membaca dan memberikan gambaran bahwa membaca dan menulis merupakan sarana utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam.

2. Pendidikan rendah di istana

Timbulnya pendidikan rendah di istana untuk anak-anak para pejabat adalah berdasarkan pemikiran bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu menyiapkan tugas-tugasnya kelak setelah ia dewasa. Atas pemikiran tersebut Khalifah dan keluarganya serta para pembesar istana lainnya berusaha menyiapkan agar anak-anaknya sejak kecil sudah diperkenalkan dengan lingkungan dan tugas-tugas yang akan diembannya nanti.

Pendidikan anak-anak di istana berbeda dangan pendidikan anak-anak di kutab pada umumnya. Di istana para orang tua murid (para pejabat istana) adalah yang membuat rencana pelajaran tersebut selaras dengan anaknya dan tujuan yang dikehendaki oleh orang tuanya.

Contoh dari rencana pelajaran dan petunjuk-petunjuk yang dikemukakan oleh para pembesar istana kepada pendidik anak-anaknya agar dijadikan pedoman sebagai berikut ;
·         Berkata Amru Ibnu Utbah kepada pendidik putranya ; “Kerjamu yang pertama untuk memperbaiki putra-putriku ialah memperbaiki dirimu sendiri karena mata mereka selalu tertuju kepadamu”.
·         Harun Al-Rasyid telah mengajukan rencana pelajaran bagi putranya (Al-Amin) dengan mengatakan sebagai berikut ; ”Hai Ahmar sesungguhnya Amirul Mu’minin telah memberikan kepadamu buah hatinya, maka jadikanlah tanganmu terbuka kepadanya dan ketaatannya kepadamu wajib”.
3. Toko-toko kitab

Pada permulaannya masa Daulah Bani Abasiyah dimana ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam sudah tumbuh dan berkembang dan diikuti oleh penulisan kitab-kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, maka berdirilah toko-toko kitab. Pada mulanya toko-toko kitab tersebut berfungsi sebagai tempat berjual beli kitab yang telah ditulis dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu. Dengan demikian toko-toko kitab tersebut telah berkembang fungsinya bukan hanya sebagai tempat berjual-beli kitab saja, tetapi juga merupakan tempat berkumpulnya para ulama, pujangga dan ahli-ahli ilmu pengetahuan lainnya untuk berdiskusi, berdebat dan bertukar pikiran dalam berbagai masalah ilmiah.

4. Rumah-rumah para ulama ahli ilmu pengetahuan

Walaupun sebenarnya rumah bukanlah tempat yang baik untuk tempat memberikan pelajaran namun pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayan Islam, banyak juga rumah-rumah para ulama dan para ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Diantara rumah para ulama terkenal yang menjadi tempat memberikan pelajaran adalah rumah Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ali Ibnu Muhammad Al-Fasihi, Yakub Ibnu Killis, Wazir Khalifah Al-Aziz Billah Al-Fatimy dan lainnya. Dan Ahmad Syalabi mengemukakan bahwa, dipergunakannya rumah-rumah tersebut adalah karena terpaksa dalam keadaan darurat. Contoh rumah Al-Ghazali berhenti mengajar karena ingin menjalankan kehidupan sufi.

5. Majelis

Dengan majelis atau salon kesusasteraan, dimaksudkan adalah suatu majelis khusus yang diadakan oleh khalifah-khalifah untuk membahas dalam berbagai macam ilmu pengetahuan. Majelis ini dimulai pada masa khalifah Al-Rasyidin yang biasa memberikan fatwa dan musyawarah serta diskusi dengan para sahabat untuk memecahkan masalah yang dihadapi pada masa itu. Pada masa Harun Al-Rasyid (170-193H) majelis sastra ini mengalami kemajuan yang luar biasa karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengatahuan dan juga cerdas sehingga khalifah aktif didalamnya. Disamping itu dunia Islam juga diwarnai dengan perkembangan dan negara aman tenang dan dalam zaman pembangunan.

6. Badi’ah (padang pasir, dusun tempat tinggal Badwi)

Sejak berkembang kuatnya Islam dan bahasa arab digunakan sebagai bahasa pengantar., maka bahasa arab cenderung kehilangan keasliannya. Disamping itu di badi’ah berdiri ribat-ribat atau zawiyah yang merupakan pusat kegiatan dari ahli sufi . Disanalah para sufi mengembangkan metode khusus dalam mencapi ma’rifat, suatu tingkat ilmu pengetahuan yang paling tinggi tingkatannya.

7. Rumah sakit

Pada zaman jayanya perkembangan kebudayaan Islam, dalam rangka menyebarkan kesejahteraan di kalangan umat Islam, maka banyak didirikannya rumah sakit oleh khalifah dan para pembesar-pembesar negara. Rumah sakit bukan hanya berfungsi sebagai tempat merawat, tetapi juga menjadi tempat mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan Mereka mengadakan penelitian, percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan.

8. Perpustakaan

Pada zaman perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, buku mempunyai nilai yang sangat tinggi. Buku digunakan sebagai sumber informasi, berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikembangkan oleh para ahlinya. Disamping itu perkembangan perpustakaan yang bersifat umum yang diselenggarakan oleh pemerintah atau wakaf dari ulama sarjana di Baitul Baghdad yang didirikan oleh khalifah Harun Al-Rasyid adalah merupakan suatu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap yang berisi ilmu-ilmu agama Islam dan berbagai macam ilmu pengetahuan.

9. Masjid

Masjid dalam dunia Islam sepanjang sejarahnya tetap memegang peranan yang pokok, disamping fungsinya sebagai tempat berkomunikasi dengan Tuhan juga sebagai tempat lembaga pendidikan dan tempat berkumpulnya umat muslim.4

D. Sistem Pendidikan Islam Masa Kejayaan

Timbulnya lembaga pendidikan formal dalam bentuk sekolah adalah merupakan pengembangan semata-mata dari sistem pengajaran dan pendidikan yang telah berlangsung di masjid-masjid yang sejak awal telah berkembang dan telah dilengkapi dengan sarana-sarana untuk memperlancar pendidikan dan pengajaran didalamnya.

Faktor-faktor yang menyebabkan berdirinya sekolah-sekolah diluar masjid adalah
·         Khalaqah-khalaqah (lingkaran) untuk mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang didalamnya juga terjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain saling mengganggu disamping mengganggu orang yang beribadah ke masjid.
·         Dengan berkembang luasnya ilmu pengetahuan baik mengenai agama maupun umum maka semakin banyak diperlukannya khalaqah (lingkaran-lingkaran pengajaran) yang tidak mungkin keseluruhan tertampung dalam ruang masjid.
Di samping itu ada terdapat faktor-faktor lainnya, yang mendorong bagi para penguasa dan pemegang pemerintahan pada masa itu untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai bangunan-bangunan yang terpisah dari masjid. Antara lain adalah :
1.      Pada masa bangsa Turki mulai berpengaruh dalam pemerintahan Abbasiyah, dan untuk mempertahankan kedudukan mereka dalam pemerintahan, mereka berusaha untuk menarik hati kaum muslimin pada umumnya, dengan jalan memperhatikan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum.
2.      Mereka mendirikan sekolah-sekolah tersebut, di samping dengan harapan untuk mendapatkan simpati dari rakyat umumnya, juga berharap mendapat ampunan dan pahala dari Tuhan.
3.      Para pembesar pada masa itu dengan kekuasaannya, telah berhasil mengumpulkan harta kekayaan yang banyak. Mereka khawatir kalau nantinya kekayaan tersebut tidak bisa diwariskan kepada anak-anaknya, karena diambil sultan.
4.      Di samping itu, didirikannya madrasah-madrasah tersebut ada hubungannya dengan usaha mempertahankan dan mengembangkan aliran keagamaan dari para pembesar Negara yang bersangkutan.
Walau bagaimanapun motivasinya namun jelas bahwa dengan berkembangnya madrasah-madrasah kaum muslimin telah mendapat kesempatan yang luas untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.5
Adapun sistem pendidikan Islam pada masa kejayaan meliputi :
1. Kurikulum
Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari oleh siswa. Lebih luas lagi, kurikulum bukan hanya sekedar rencana pelajaran, tetapi semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah.
Kurikulum dalam lembaga pendidikan Islam pada mulanya berkisar pada bidang studi tertentu. Namun seiring perkembangan sosial dan cultural, materi kurikulum semakin luas. Pada masa kejayaan Islam, mata pelajaran bagi kurikulum sekolah tingkat rendah adalah al-Quran dan agama, membaca, menulis, dan berenang. Sedangkan untuk anak-anak amir dan penguasa, kurikulum tingat rendah sedikit berbeda. Di istana-istana biasanya ditegaskan pentingnya pengajaran khitabah, ilmu sejarah, cerita perang, cara-cara pergaulan, disamping ilmu-ilmu pokok seperti al-Quran, syair, dan fiqih. Setelah usai menempuh pendidikan rendah, siswa bebas memilih bidang studi yang ingin ia dalami di tingkat tinggi.
Ilmu-ilmu agama mendominasi kurikulum di lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti masjid, dengan al-Quran sebagai intinya. Ilmu-ilmu agama harus dikuasai agar dapat memahami dan menjelaskan secara terperinci makna al-Quran yang berfungsi sebagai fokus pengajaran.
2. Metode Pengajaran
Dalam proses belajar mengajar, metode pengajaran merupakan salah satu aspek pengajaran yang penting untuk mentransfer pengetahuan atau kebudayaan dari seorang guru kepada para pelajar. Metode pengajaran yang dipakai dapat dikelompokkan ke dalam tiga macam, yaitu lisan, hafalan, dan tulisan. Metode lisan bisa berupa dikte, ceramah, qira’ah, dan diskusi. Metode menghafal merupakan ciri umum dalam sistem pendidikan Islam pada masa ini. Untuk dapat menghafal suatu pelajara, murid-murid harus membaca berulang-ulang sehingga pelajaran melekat di benak mereka. Sedangkan metode tulisan adalah pengkopian karya-karya ulama.
3. Rihlah Ilmiyah
Salah satu ciri yang paling menarik dalam pendidikan Islam di masa itu adalah sistem Rihlah Ilmiyah, yaitu pengembaraan atau perjalanan jauh untuk mencari ilmu.6
E. Tokoh-tokoh Pendidikan Islam Masa Kejayaan
Dalam bidang filsafat, tampillah al-Kindi sebagai perintis intelektual Islam. Dia dikenal sebagai failasuf al-‘Arab (filosof bangsa Arab) disamping sebagai filosof Muslim pertama. Dia dikenal sebagai seorang penulis danlam filsafat dan ilmu pengetahuan.
Filsafat menemui momentumnya yang baru, setelah muncul al-Farabi dalam pentas intelektualisme Islam. Dia penerus tradisi intelektual al-Kindi, tetapi dengan kompetensi, kreativitas, kebebasan berpikir, dan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi. Al-Farabi termasyhur namanya dalam bidang logika dan sebagai juru bicara Plato dan Aristoteles pada masanya.
Lebih dari satu abad setelah al-Farabi, muncullah Ibnu Sina. Di tangannya filsafat Islam mencapai puncaknya dan dialah yang terbesar di antara sekalian pemikir yang menuliskan karya filsafatnya dalam bahasa Arab. Ibn Sina adalah penulis Muslim yang luar biasa produktif. Banyak sekali karangannya, tetapi yang paling terkenal adalah al-Syifa’, suatu karya ensiklopedis tentang fisika, metafisika, dan matematika yang terdiri dari 18 jilid.
Akan tetapi, dibandingkan dengan Ibn Rusyd, Ibn Rusyd lebih dikenal di Eropa dari pada semuanya. Di Barat dia dikenal dengan Averroes. Dia seorang yang memiliki kemampuan intelektual yang luar biasa. Dibidang kedokteran, kontribusi Ibn Rusyd tidak bisa dianggap kecil. Ia sendiri telah terjun pada profesi dokter. Sumbangannya dalam bidang medis adalah karyanya yang berjudul al-Kulliyat fi al-Tibb, yang memuat pembahasan tentang penyakit cacar dan tentang retina. Tetapi, dia lebih dikenal sebagai seorang filosof.
Di bidang kedokteran terukir nama al-Razi (865-925 M). Dia dikenal sebagai ahli dokter Muslim terbesar, paling orisinal, dan terbanyak tulisannya. Dia telah mengarang buku tentang penyakit cacar dan campak (al-Judari wa al-Hasbah). Karyanya yang terpenting adalah al-Hawi yang terdiri dari 20 jilid membahas berbagai cabang ilmu kedokteran. Ibn Sina juga menyumbangkan karyanya bagi kebesaran dunia medical Islam.
Di bidang Kimia, sumbangan dan orisinal karya Muslim jauh lebih besar. Jabir Ibn Hayyan terkenal sebagai bapak Kimia. Tokoh lainnya adalah Abu Bakr Muhammad bin Zakariyah al-Razi.
Dalam bidang Fisika, Abu Raihan Muhammad al-Baituni (973-1048 M) sebelum Galileo telah mengemukakan teori tentang bumi berputar pada porosnya. Sedangkan di bidang Matematika, Islam memiliki sejumlah ahli matematika. Yang paling terkenal adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-850 M). ia menulis buku-buku mengenai ilmu hitung dan aljabar Hisab al-Jabrwa al-Muqabalah (Kalkulasi Integral dan Persamaan) merupakan karyanya yang tergolong besar. Ahli Matematika terkemuka lainnya adalah Ghiyat al-Din al-Kasyani. Bukunya al-Risalat al-Muhitiyyah merupakan karya besar mengenai ilmu hitung. Ahli matematika lainnya adalah Umar Khayam yang pada karyanya menjelaskan tentang pemecahan geometri dan aljabar, tentang persamaan tingkat kedua, dan klasifikasi persamaan.
Umat Islam juga berhasil mengembangkan astronomi. Di bidang ini muncul sederetan nama ahli astronomi, seperti Ibrahim al-Fazari, Ali bin Isa al-Asturlabi, al-Khawarizmi, Umar Khayyam, al-Zarqali, dan yang lainnya.7
Demikian tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam kejayaan pendidikan umat Islam. Bukan hanya kemajuan ilmu-ilmu di atas yang telah dicapai umat Islam, masih banyak lagi kemajuan sains lain yang juga telah dicapai umat Islam.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan

Kejayaan umat Islam di bidang pendidikan tidak lepas dari pengaruh pemikiran warisan Yunani yang mana pemikiran-pemikiran tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, lalu dipelajari oleh umat Islam. Kontak umat Islam dengan filsafat Yunani sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam.

Masa kejayaan pendidikan Islam dimulai dengan berkembang pesatnya kebudayaan Islam. Ada dua faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor Intern dan faktor Ekstern.

Lembaga pendidikan Islam ada yang bersifat formal dan ada yang bersifat nonformal. Pendidikan Islam yang bersifat formal memiliki sistem antara lain kurikulum, metode pengajaran, dan Rihlah Ilmiyah. Pada masa kejayaan ini terdapat banyak tokoh yang mempunyai kontribusi besar dalam kemajuan pendidikan Islam.

Demikianlah dunia Islam di masa jayanya, yang dihiasi dengan berbagai unsur budaya dan ilmu pengetahuan yang beraneka ragam dapat diibaratkan sebagai taman yang indah penuh dengan berbagai macam tanaman dengan buah dan bunga yang beraneka warna, dilengkapi dengan berbagai sarana rekreasi yang mengasyikkan.












DAFTAR PUSTAKA

Asrohah, Hanun . 1999. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu.
Zuhairini. 1997. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
1 Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm.26-31
2 Ibid, hlm.32-34
3 Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1997), hlm.88-89
4 Ibid, hlm.89-99
5 Ibid, hlm.99-102
6 Hanun Asrohah, Op.Cit, hlm.71-87
7 Ibid, hlm.34-40


No comments:

Country Visitor

   

FEEDJIT Live Traffic Feed

September 11, 2001

ISLAMIC WEBSITE

Thanks 4 not smoking


ApapunYgTrjadi:Baik


PuPuMaaaaa


Who is this

KAMUS

all of u r welcome

Labels/Kategori

i hope u enjoy...............

Loading...

Smile


ALWIN TANJUNG

ALWIN TANJUNG

Alwin Tanjung

Alwin Tanjung
E-mail: win3471@gmail.com

Boston

Boston

Blog Archive

SunSet

SunSet
Image

Guest Book (BukuTamu)


Layar Tancap

Loading...

Rambut Trpanjang......

Rambut Trpanjang......
di Dunia